الفاتحة
Pintu Pertama: Membuka Segala Urusan dengan Nama Allah
Teks ayat
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ1 الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ2 الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ3 مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ4 إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ5 اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ6 صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ7
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam. Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Pemilik hari pembalasan. Hanya kepada Engkau kami menyembah dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan jalan mereka yang dimurkai, dan bukan pula jalan mereka yang sesat.
Memulai dengan menyebut nama-Nya
Sebelum tangan mulai bekerja dan kaki melangkah, ada kalimat yang baik diucapkan lebih dulu, dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Menyebut nama-Nya di awal sesuatu memberkahi pekerjaan itu dan mengingatkan kita bahwa kita tidak sedang berjalan sendiri. Rahmat-Nya seluas segala yang ada, dan di bawah naungan nama itu hati menemukan tenangnya.
Ketika setiap urusan kita awali dengan menyebut Pemilik sejati segala sesuatu, cara kita memegang harta ikut berubah. Apa yang ada di tangan ternyata titipan yang suatu hari diminta kembali. Menyadari itu membuat genggaman kita lebih longgar, lebih ringan saat memberi, dan lebih lapang ketika sesuatu pergi.
Pujian yang utuh hanya milik-Nya
Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam. Pujian yang penuh memang hanya pantas untuk-Nya, sebab setiap kebaikan yang kita puji pada makhluk pun sebenarnya berasal dari Dia. Maka membuka dan menutup hari dengan alhamdulillah menjaga hati tetap tersambung pada sumber segala nikmat, dan tidak melupakan-Nya di tengah kesibukan apa pun.
Mendidik dengan kasih
Dua nama yang berulang, Ar-Rahman dan Ar-Rahim, menaruh kasih sayang di jantung hubungan kita dengan Allah. Dari sini kita belajar bahwa dasar setiap pendidikan, entah kepada anak, murid, atau diri sendiri, adalah kasih dan bukan kekerasan. Siapa yang menghayati bahwa ia menyembah Tuhan Yang Maha Pengasih akan merasa dekat, dan kedekatan itu menumbuhkan rasa aman serta dorongan untuk memuji.
Pemilik hari pembalasan, maka untuk apa cemas
Allah pemilik hari ketika semua perkara kembali kepada-Nya. Selama hak setiap orang tersimpan rapi di sisi Raja Yang Mahaadil, yang menegakkan timbangan dengan lurus, menolong yang dizalimi dan tidak membiarkan yang berbuat zalim, sebenarnya tidak ada alasan untuk dikuasai rasa takut dan gelisah. Keyakinan ini perlahan menurunkan beban yang menumpuk di dada.
Hanya kepada-Mu kami menyembah
Di sini kita berdiri di hadapan-Nya dan berkata, hanya kepada Engkau kami menyembah dan hanya kepada Engkau kami meminta tolong. Ibadah adalah puncak ketundukan, dan ia tidak layak diberikan kepada siapa pun selain Allah, sebagaimana ditegaskan Imam al-Alusi, karena Dialah yang memberi kita hidup dan keberadaan beserta segala yang menyertainya.
Maka salat, zakat, puasa, haji, doa, dan setiap permohonan pertolongan kita arahkan kepada-Nya saja. Di zaman ini penghambaan kerap menyelinap dalam wujud lain, tunduk pada anggapan orang banyak, pada kekuasaan, atau pada harta dan pemiliknya. Melepaskan diri dari semua itu adalah bagian dari makna kalimat ini.
Ada adab yang halus di ayat ini. Seorang hamba menyadari betapa kecil dirinya di hadapan Tuhannya, lalu merasa malu berdiri sendirian, dan memilih berbaur dalam barisan orang beriman untuk menyembah dan meminta tolong bersama mereka.
Tunjukilah kami jalan yang lurus
Permintaan paling besar dalam surah ini adalah hidayah menuju jalan yang lurus, sebab di sanalah letak kebahagiaan dunia dan akhirat. Kita mengulang permohonan ini di setiap rakaat, dan pengulangan itu sendiri seperti pengingat bahwa peluang tersesat dalam hidup begitu banyak, sehingga doa untuk tetap lurus tidak boleh berhenti.
Jalan itu adalah jalan mereka yang telah Allah beri nikmat, para nabi, orang-orang jujur, para syuhada, dan orang-orang saleh. Kita diajak menapaki jejak mereka dan menjauhi jalan orang yang dimurkai dan yang tersesat, mereka yang meninggalkan kebenaran lalu mendahulukan hawa nafsu. Tidak seorang pun pernah mendapat petunjuk kecuali karena Allah memberinya, maka mengingat nikmat-nikmat-Nya yang telah lalu menjadi salah satu cara terindah untuk memanggil nikmat berikutnya.